View Muritsul Jannah

Masjid Termegah Kotalama Malang

Memakmurkan Masjid

Orang yg memakmurkan masjid, merekalah yg mendapat hidayah. (QS. Taubah:18).

Terima Kasih

atas donasi untuk pembangunan Masjid Muritsul Jannah. Amal Jariyah (infaq, sodaqah, zakat) bisa ditransfer via Rekening BRI Nomor 0344-0100-464-55-33 an. HR. Taufiqurrochman, MA (Takmir Masjid).

POSDAYA Muritsul Jannah

POSDAYA Muritsul Jannah: memberdayakan umat dan memakmurkan masjid sebagai Islamic Center.

Peresmian Masjid Muritsul Jannah

Peresmian Masjid dihadiri: KH Basori Alwi, Habib Sholeh al-Aydrus, Drs Saifullah Yusuf (WaGub Jatim), Habib Jamal b. Toha Baaqil, Habib Abdul Qodir, Drs Sutiaji (Wawali Malang).

Dewan Masjid Indonesia

Takmir Masjid Muritsul Jannah Terpilih sebagai Ketua DMI Kotalama Malang.

Pesantren Ramadan Muritsul Jannah

Mencetak Generasi Muda Muslim Berakhlaq Mulia dan Berilmu Sempurna.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2012

KH Muhsin Syafi'i


Nama "Kiai Muhsin", pengasuh pondok pesantren Raudhatul Muhsinin al-Maqbul, Bulalawang, Malang, sudah tidak asing lagi di kalangan jamaah Masjid Muritsul Jannah Malang. Para santri dan alumninya tersebar luas di kampung yang oleh Kiai Muhsin sendiri disebut "tanah perjuangan".

Secara langsung maupun tidak langsung, Kiai Muhsin memberi andil besar terhadap perkembangan Islam, terutama dalam memakmurkan Masjid Muritsul Jannah. Betapa tidak, para santri dan alumni kiai yang juga dikenal "Wali" itu, juga turut andil berjuang dan mengisi kegiatan ruhani di kampung Kebalen Wetan dan Kotalama sekitarnya.

Hal ini membuktikan bahwa Kiai Muhsin selalu "memantau" pergerakan aktualisasi ajaran Islam, terutama di kalangan generasi muslim baik yang santri maupun yang abangan. Dengan pendekatan supranatural, Kiai Mahsin mampu membangun loyalitas umat untuk selalu berpegang teguh pada aqidah Ahlissunnah Wal Jamaah.

Dalam banyak kesempatan, Kiai Muhsin sering mengunjungi para tokoh masyarakat di Kotalama yang notabene-nya mereka juga nyantri kepada Kiai Muhsin, baik sebagai santri, alumni, atau -meminjam istilah pesantren- sebagai "santri manukan" karena yang banyak dari para jamaah tersebut adalah santri pengajian rutin tiap Ahad Pagi yang digelar di pesantren Kiai Muhsin. Alhamdulillah, penulis pernah “nyantri” dengan mengikuti pengajian umum Ahad Pagi, sekitar tahun 2001-2002 yang saat itu mengaji kitab “Bidayatul Hidayah”, awal suluk untuk mencapai hakikat hidayah.

Dalam kunjungannya ke rumah-rumah para jamaah itu, Kiai Muhsin selalu memberi motivasi dan siraman ruhani agar semua pihak tetap bersatu, merapatkan barisan dengan kesungguhan tekad dan istiqamah. Nilai moral inilah yang menyadarkan masyarakat untuk kembali meniti jalan yang benar. Beliau juga kerap memberi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi para jamaah, mulai dari problem sosial, ekonomi hingga masalah pribadi.

Masih teringat tentang bagaimana andil besar Kiai Muhsin dalam memberantas kemaksiatan di kampung Kebalen Wetan yang dulu identik dengan prostitusi ini. Melalui riyadahnya bersama para kiai lain, Kiai Muhsin berusaha membentengi para pejuang kebenaran hingga pada akhirnya, beliau menyebut jamaah Masjid Muritsul Jannah keluar sebagai "Pemenang" setelah tahun 1994, seluruh losmen dan hotel remang-remang resmi ditutup untuk selamanya.

Kepada penulis, dikisahkan, ada seorang jamaah masjid yang kini juga menjadi panitia pembangunan, suatu hari bertamu kepada Kiai Muhsin. Tujuannya adalah meminta barakah doa agar para pemuda yang biasa bermain judi tepat di depan rumahnya, bisa bubar. “Tenang, Pak Haji. Siramkan saja air putih ini di tempat mereka main judi”, pesan Kiai Muhsin, santai. Sepulangnya di rumah, amanat ini benar-benar dilaksanakan.

Ketika waktu malam tiba, saat para penjudi itu biasa memulai permainan, tiba-tiba mereka melihat semut bertebaran dimana-mana. Suasana pun gaduh, mereka bingung hingga akhirnya tidak jadi berjudi di tempat itu. Melihat kejadian ini, Pak Haji pun senang. Anehnya, tatkala ia keluar rumah dan melihat di teras tempat lokasi judi, ternyata tidak ada seekor semut pun di sana. Luar biasa!!! Inilah karamah dan salah satu bukti bahwa Kiai Muhsin berjasa besar dalam memberantas kemaksiatan dengan cara beliau sendiri.

Selain kisah fantastik di atas, sebenarnya masih banyak cerita lain seputar keunikan Kiai Muhsin yang dengan “tangan dingin”, beliau menopang kekuatan umat. Kini, setelah Kiai Muhsin tutup usia, pengaruhnya tetap kental di masyarakat. Putra-putra beliau masih konsisten meneruskan perjuangan "Kiai Maqbul" melalui pendekatan persuasif kepada para pemuda dan remaja. Karena itu, saat penulis sendiri mengabarkan masjid Muritsul Jannah akan direnovasi, KH Suadi Muhsin tidak bisa menutupi kegembiraannya. Bahkan, beliau berpesan agar semua putra-putra Abahnya juga turut diundang dalam acara "Peletakan Batu Pertama" itu. Tujuannya antara lain supaya semua keluarga besar Kiai Muhsin menjadi saksi sekaligus bukti estafet perjuangan di tanah "Kebalen Wetan dan Kotalama sekitarnya".

Dan benar, di saat acara "Peletakan Batu Pertama" Pembangunan Masjid Muritsul Jannah, Senin, 10 September 2012, kelima  putra Kiai Muhsin hadir, yakni, Gus KH Suadi, KH Chudori, KH Lukman, KH Nur Wahid dan KH Muhtadin. Hanya KH Abdullah Makki yang berhalangan sebab saat itu beliau sedang di Jakarta.

Inilah estafet perjuangan yang hingga kapanpun tidak boleh berhenti. Kiai Muhsin boleh saja telah pergi untuk selamanya. Namun, tekad dan cita-cita Sang Kiai tidak boleh surut. Harus dilanjutkan, baik oleh putra-putranya maupun seluruh jamaah yang selalu mencintai dan menghormati beliau sebagai salah satu pewaris Nabi.

Yang patut digarisbawahi di sini adalah bahwa Masjid Muritsul Jannah merupakan representasi dari wujud cita-cita para kiai, termasuk Kiai Muhsin, yang wajib dimakmurkan oleh seluruh generasi muslim di bumi Kebalen dan Kotalama sekitarnya dimana di setiap jengkal tanahnya adalah sarat dengan nilai perjuangan bagi mereka memahami adanya hikmah dibalik setiap yang wujud. Menurut Kiai Muhsin, yang ikhlas berjuang dan terus istiqamah, dialah yang keluar sebagai pemenang.

Nama Kiai Muhsin Syafi'i akan selalu disebut dalam tawassul saat Khatmil Quran di Masjid Muritsul Jannah di tiap pagi Jumat Legi. Melalui tulisan singkat ini, atasnama semua jamaah, kami berharap ikatan silaturrahim antara seluruh keluarga besar al-Maqbul dan Muritsul Jannah terus kokoh dan menyatu untuk selamanya. Hubungan spiritual yang diikat dalam bingkai "Silaturrahim" inilah yang menjadikan masjid Muritsul Jannah tetap keramat.

Disebut "Masjid Keramat" sebab sejak awal ia telah dibangun atas dasar “taqwa” dan ditopang oleh doa serta perjuangan para wali, habaib, kiai dan asatidz. Di masjid ini, ada banyak tapak para pejuang pemberani, karya besar para agniya' yang dermawan, ada peluh perjuangan pemuda tangguh, para ibu dan anak-anak yang bersemangat. Inilah yang menjadi jamaah Masjid Muritsul Jannah selalu kompak menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Selamat Jalan, Kiai telah berhasil meletakkan pondasi yang kuat di hati umat.

08 Desember 2012

Pak Ngadiyo, Pendekar NU

Sabtu, 8 Desember 2012, tepatnya pukul 05.00 WIB, Bapak Abdullah Ngadiyo berpulang ke rahmatullah. Bukan hanya keluarga besarnya yang merasa kehilangan, namun juga warga NU kota Malang, seluruh pengurus takmir dan jamaah Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang dan juga murid-murid beliau.

Pria yang akrab dipanggil Pak Yo itu, sejatinya adalah sosok yang kuat, pantang menyerah, pemberani, kharismatik dan sangat mencintai para alim ulama. Kedekatan dan kecintaannya kepada para kiai, telah mengakar dalam dirinya sejak muda. Karena itu, sangat tepat bila Pak Ngadiyo berjuang di dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

Di bawah komando Pak Ngadiyo, pencak silat Pagar Nusa NU kota Malang mencapai puncak kejayaan. Kaderisasi para pendekar muda sebagai garda terdepan dalam membela Ahlisunnah Wal Jamaah berjalan efektif. Pagar Nusa NU merambah dunia kampus dan bibit-bibit bertalenta tinggi, oleh Pak Ngadiyo digodog menjadi pembela kebenaran yang berani.

Dedikasi Pak Ngadiyo terhadap NU ini telah ditunjukkan sejak beliau masih muda dan bahkan, beliau berhasil mewariskan "Darah NU" itu kepada putra-putrinya sendiri yang kesemuanya juga aktif di ormas berlambang bumi dan bintang sembilan itu. Sebuah perjuangan panjang dari seorang pendekar bernama "Abdullah Ngadiyo".

Jika ada slogan, "Jangan mencari hidup dari NU, tapi hiduplah untuk NU", maka bagi Pak Yo, kalimat itu bukan sekedar slogan, tapi sebuah wasiat dari para kiai sepuh yang harus ditaati. Karena itu, semua pengurus NU kota Malang mengakui, bahwa Pak Ngadiyo adalah representasi wasiat itu. Hidupnya memang benar-benar dihabiskan untuk mengabdi demi NU dan kemaslahatan umat.

Di kampung Kotalama, Pak Ngadiyo juga dikenal sebagai ustadz. Beliau adalah guru ngaji. Diakhir tahun 80an, Ustadz Ngadiyo mengajarkan al-Quran dan shalawatan di Masjid Muritsul Jannah. Pak Yo sempat prihatin, bila tradisi dibaan, shalawatan, burdahan dan sebagainya mulai tidak digemari oleh generasi muda. Karenanya, beliau terpanggil untuk mengejewantahkan kecintaan terhadap al-Quran dan hubbun Nabi ini kepada anak-anak sejak dini melalui seni bernafaskan Islam.

Siraman ruhani juga harus diimbangi kekuatan jasmani. Sebab, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Barangkali, filosofi inilah yang mengilhami Pak Ngadiyo untuk mengajarkan pencak silat dan seni bela diri, sekaligus juga untuk melestarikan budaya nusantara. Oleh karena itu, selain di ormas NU, Pak Yo juga mengajarkan dasar-dasar silat untuk para siswa di madrasah dan anak-anak muda di kampung halamannya.

Selain memiliki fisik ideal sebagai seorang pendekar, Pak Ngadiyo juga diangerahi Allah suara yang merdu. Dalam beberapa kesempatan di waktu mudanya, beliau sering ditunjuk untuk melantunkan ayat-ayat suci al-Quran bil-ghina. Namun, yang paling fenomenal dari bakatnya itu adalah lantunan suaranya saat mengumandangkan panggilan adzan.

Yah, Pak Ngadiyo adalah muadzin legendaris Masjid Muritsul Jannah. Bukan hanya dari aspek suara saja, tapi irama dan lagunya sangat khas, beda dengan muadzin lain. Beliau tidak meniru lagu ala muadzin Haramain atau nada-nada adzan yang biasa terdengar di layar televisi. Tapi, Ustadz Abdullah Ngadiyo memiliki lagu dan irama sendiri yang takkan bisa ditiru apalagi ditandingi muadzin lainnya.

Jika beliau telah mengumandakan adzan, apalagi di waktu subuh, fajar pagi seakan merekah menyambut nada-nada indahnya. Iramanya sangat menyentuh hati, apalagi saat beliau dimita beradzan dalam acara pemberangkatan calon jamaah haji, maka bisa dipastikan akan banyak air mata bercucuran dari siapa saja yang mendengar adzan ala Pak Ngadiyo.

Penulis sendiri merasa bersyukur, sebab pada saat hendak berangkat haji tahun 1994 dan 2010 lalu, keberangkatan penulis ke tanah suci juga diiringi lantunan adzan Ustadz Ngadiyo. Sangat mengharukan dan menggetarkan jiwa! Adzan itu seakan terus terngiang hingga ke padang Arafah.

Pria kelahiran 1943 itu adalah juga guru tetap di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Huda Mergosono Malang sejak tahun tahun 80an hingga akhir hayatnya. Meski digaji pas-pasan yang pastinya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya, tapi Pak Ngadiyo tidak pernah mengeluh sedikit pun. "Semua ini adalah perjuangan", katanya.

Bahkan, ketika akhir-akhir ini, gaji guru swasta mulai agak cerah karena adanya BOS dan tunjangan sertifikasi guru, ternyata Pak Ngadiyo sendiri dinyatakan tidak berhak mendapatkan "kue" dari negara itu, entah karena spesifikasi ijazahnya yang tidak sesuai atau usianya dinilai telah udzur. Tapi, mengeluhkah Pak Ngadiyo? menyerahkah dia? Tidak! Sang Pendekar tetaplah pendekar.

Dengan gaji atau tanpa gaji pun, Pak Ngadiyo tetap istiqamah mengajar. Dengan cara berjalan kaki mulai pukul 06.30 menyisiri jalanan Kebalen Wetan, Pak Ngadiyo berangkat menuju MI Tarbiyatul Huda Mergosono yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Selepas dhuhur, biasanya beliau ke pasar besar Malang untuk berjualan ayam kampung. Lalu, sejak sore hingga malam, waktunya diwaqafkan untuk NU, masjid dan kegiatan umat.

Luar biasa! Pak Ngadiyo bukan sekedar "Umar Bakri" pendidikan Islam, tapi "Umar bin Khattab" bagi para kiai, PCNU kota Malang, Masjid Muritsul Jannah, MI Tarbiyatul Huda, SDN Kotalama, dan seluruh masyarakat. Dialah pendekar yang siap mengorbankan nyawa demi membela kebenaran.

Masih teringat jelas bagaimana keberanian Pak Ngadiyo dalam memberantas kemaksitan di kampung Kebalen Wetan yang dulu dikenal sebagai kampung prostitusi. Pak Ngadiyo juga yang membela KH Hasyim Mudzadi saat beliau menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang dari gangguaan pihak-pihak yang ingin merongrong NU.


Cobaan demi cobaan yang menimpa pribadi, keluarga dan masalah putra-putrinya, semua dihadapi Pak Ngadiyo dengan tegar dan sabar. Kekuatan fisik dan jiwanya mampu menutup rasa pedih dan juga sakit yang dideritanya. Seakan-akan, Pak Ngadiyo berkata, "Biarlah cobaan dan kepedihan ini kurasakan sendiri, asalkan jangan ada yang coba-coba melukai para kiai, NU, masjid, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam".

Itulah sosok pendekar sejati yang sesungguhnya. Pak Abdullah Ngadiyo tidak hanya berjuang dengan jiwa dan raga, tapi juga dengan hati nurani. Karenanya, kepergian Pak Ngadiyo dalam usia 68 tahun ini, benar-benar menyisakan kehilangan yang mendalam bagi semua warga NU, jamaah masjid dan seluruh aktivis pendidikan Islam.

Ratusan umat ikut melayat dan mengantar kepergiannya. Tampak hadir di sana, KH Marzuki Mustamar, KH Ali Mashan Musa, KH Abdullah Qodir, Habib Syekh, Ustadz Syafaat, dan masih banyak tokoh agama, ormas NU, parpol, jamaah nahdliyyin, para guru dan masyarakat sekitar yang kebanyakan mengaku sebagai murid Ustadz Ngadiyo.

Dalam beberapa tahun ke depan, akan sangat sulit ditemukan sosok pendekar NU yang multi talenta seperti Ustadz Ngadiyo. Melalui tulisan ini, sebagaimana harapan beliau sendiri, segera muncul para penerus dan pelanjut perjuangan Sang Pendekar, baik dari putra-putri maupun murid-murid beliau.

Setiap hal selalu ada limitnya, ada batasnya, termasuk juga usia seseorang juga akan menemui ajalnya. Sang Pendengar pun pada akhirnya harus menyerah pada takdir untuk memenuhi panggilan Sang Kholiq. Namun, cita-cita dan semangatnya akan terus berkobar untuk selamanya. Selamat Jalan, Ustadz Abdullah Ngadiyo. Dengan iringan doa, semoga beliau berada pada posisi mulia di sisi Allah.

20 November 2012

Paklik Syadzili, Guru Ngaji



Sabtu, 17 Nopember 2012 lalu, untuk kedua kalinya saya bertemu Ustadz Syadzili. Dua tahun lalu, 2010, sepulang saya dari ibadah haji, beliau juga berziarah ke rumah saya. Melihat wajah Paklik Syadzili yang bersih dan bercahaya meski mulai keriput, menandakan bahwa dia adalah ahli ibadah yang istiqamah.

Beliau lebih senang dipanggil "Paklik" daripada "Bapak, Om, Ammy, Ustadz" atau panggilan lainnya. Boleh jadi, sebutan ini yang membuatnya tampak awet muda. Bahkan, beliau mengaku penglihatannya tetap normal, masih bisa membaca huruf berukuran kecil, apalagi tulisan di mushaf al-Quran.

Paklik Syadzili adalah guru ngaji pertama di Masjid Muritsul Jannah yang kala itu masih berstatus langgar/mushalla. Bahkan, sebelum langgar berdiri, Paklik Syadzili sudah aktif mengajarkan al-Quran kepada anak-anak di kampung Kebalen Wetan Blok Muris Kelurahan Kotalama Malang.

Seingat Paklik Syadzili, beliau sudah aktif mengajar sejak tahun 1963. Kala itu, kondisi masyarakat di sekitarnya masih awam atau bahkan "hitam". Disebut hitam, karena kebanyakan warganya masih abangan dan mayoritas ikut barisan PKI yang merupakan organisasi terlarang di Indonesia.

Dalam ceritanya, saat itu, warga yang benar-benar muslim alias shalat, masih sedikit. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan moral mereka sudah rusak layaknya jahiliyah. Hampir tiap malam, banyak kumpulan orang berjudi. Di sekitar kampung, juga tercecer rumah-rumah prostitusi. Alhasil, Paklik Syadzili berjuang di tengah rusaknya akhlaq.

Namun, beliau tak pernah patah semangat. Meski mengaku tidak begitu mumpuni dalam penguasaan ilmu agama, Paklik Syadzili nekat mengajarkan al-Quran kepada anak-anak dan para remaja. Paklik berpikir, roda pasti berputar. Kini, para orang tua dan warga memang masih rusak moralnya. Namun kelak, pasti mereka akan digantikan oleh generasi berikutnya. Nah, generasi itulah yang dipersiapkan Paklik Syadzili sehingga beliau tak patah arang untuk berjuang.

Pria yang kini berusia 68 tahun itu, adalah guru ngaji pertama di kampung blok muris, jauh sebelum langgar berdiri tahun 1967. Sejak 1963, Paklik mengajar baca al-Quran di rumah (Alm) Bapak Yusuf, tepat di pinggir jalan. Saat itu, jumlah muridnya pernah mencapai 100 anak lebih. Karena kondisi rumah yang sempit, terpaksa posisi tempat tidur diberdirikan dan kursi-kursi dialihkan agar bisa menampung anak-anak mengaji.

Mereka yang mengaji bukan hanya berasal dari anak-anak di Kampung Muris saja, tapi juga banyak yang datang dari kampung Polehan, Muharto, Mergosono, Kotalama hingga Jodipan. Boleh jadi, karena tidak banyak majelis taklim sehingga pengajian Paklik Syadzili membludak. Oleh karena itu, kebutuhan akan adanya langgar menjadi sangat penting.

Tahun 1967, langgar pun berdiri berkat waqaf dari pihak kecamatan. Paklik Syadzili, H. Suyuti, Bpk Yusuf, Pak Min Gedek, Pak Din adalah aktor penting yang merintis berdirinya langgar yang kemudian diberinama "Darus Salam". Awal tahun 1970, saat langgar itu diperluas dan dibina menjadi masjid, maka oleh KH Abdullah Sattar Hilmy diubah namanya menjadi "Masjid Muritsul Jannah Li Ahlis Sunnah Wal Jamaah".

Agar pengajian menjadi menarik, Paklik Syadzili menambah pelajaran syair-syair Islam-Jawa supaya anak-anak menjadi senang mengaji. Selain itu, Paklik juga merintis pembacaan shalawat diba' keliling dari rumah ke rumah para muridnya. Paklik bercerita, pernah acara diba' diselenggarakan di rumah seorang muridnya yang kebetulan anak seorang mucikari. Inilah dakwah.

Menjelang tahun 1968, Paklik Syadzili memutuskan pindah rumah ke wilayah Muharto. Kepindahan tersebut dipicu oleh rasa prihatin Paklik saat melihat sebuah langgar di Muharto yang tidak terurus. Atas izin KH Abdullah Sattar, Paklik pun akhirnya pindah rumah demi untuk memakmurkan langgar "Baitus Somad" yang terbengkalai. Bahkan, Kiai Abdullah berpesan agar supaya Paklik Syadzili menikah dengan wanita di sekitar langgar agar ia bisa berdakwah secara istiqamah.

Karena kepindahan tersebut, pengajian Paklik Syadzili di langgar baru "Muritsul Jannah" digantikan oleh Ustadz Rifa'i. Tapi, Paklik Syadzili juga masih tetap mengajar meski durasinya mulai berkurang. Demikianlah kehidupan Paklik Syadzili, tiap sore hingga malam, berpindah-pindah dari satu langgar ke langgar lain untuk mengajarkan al-Quran dan pelajaran agama Islam.

Masih teringat jelas, saat saya masih berusia sekitar 3.5 tahun, oleh Abah saya telah diantar ke kediaman Bapak Yusuf yang saat itu menjadi tempat pengajian Paklik Syadzili sebelum langgar "Muritsul Jannah" berdiri. Ketika Paklik kerepotan mengajar anak-anak yang jumlahnya sedemikian banyak, terkadang dibantu oleh Bapak Yusuf. Demikianlah perjuangan menyebarkan Islam saat itu.

Sehingga, saya simpulkan, bahwa selain (Alm.) Ustadz Rifa'i, maka Paklik Syadzili dan (Alm.) Bapak Yusuf adalah guru-guru pertama saya. Mereka adalah "as-Sabiqun al-Awwalun", orang-orang kuno pertama yang berperan penting dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan cahaya ilmu bagi generasi muda muslim di kampung Muris, Kotalama, Malang.

Kini, setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkan kampung Gang Muris, kecintaan Paklik Syadzili terhadap Masjid Muritsul Jannah yang dulu pernah dirintisnya, masih tetap mendalam. Buktinya, ketika saya bertemu beliau, ternyata Paklik tengah mengantarkan salah satu cucunya bernama Dina yang hendak menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid.

Ceritanya, kedua cucu beliau mendapat hibah rumah dari orang tuanya. Rumah yang berada di bantaran sungai itu, telah terjual seharga Rp 16 juta. Lalu, Paklik Syadzili berpesan kepada cucunya agar menyumbangkan sebagian hasil penjualan untuk pembangunan masjid. Sang cucu bertanya, "Untuk pembangunan masjid mana?". "Ayo saya antar ke Masjid Muritsul Jannah, tempat perjuangan yang hingga kini masih ada di dalam hati saya", jawab Paklik Syadzili.

"Berapa banyak yang harus kami berikan kepada masjid itu?", tanya si cucu, lagi. Inilah jawaban Paklik Syadzili, "Terserah kalian. Sebab, kalau nominalnya terserah saya, maka pasti akan saya sumbangkan seluruhnya untuk masjid yang saya cintai itu. Jadi, terserah kalian, sisihkan sebagian untuk masjid dan sebagian untuk kebutuhan rumah tangga. Jangan terserah saya, sebab saya pasti akan menjawab semuanya".

Subhanallah, inilah jawaban pejuang masjid yang sesungguhnya. Loyalitasnya terhadap Masjid Muritsul Jannah benar-benar tanpa batas. Jawaban Paklik itu mengingatkan saya pada dialog antara Rasulullah saw bersama para sahabatnya saat hendak mempersiapkan perang.

Rasul pernah mengajak para sahabatnya agar menyumbangkan harta-benda untuk kepentingan jihad. Lantas, Abu Bakar tampil sebagai pertama yang menyanggupinya. "Berapa banyak harta yang akan kau berikan untuk jihad, wahai Abu Bakar?", tanya Nabi. Abu Bakar menjawab, "Semuanya, Ya Rasulullah".

Benar-benar luar biasa kekokohan iman dan loyalitas Abu Bakar sehingga tak salah bila Nabi menyatakan, "Andaikan iman seluruh penduduk bumi ditimbang lalu dibandingkan dengan iman Abu Bakar, maka pastilah iman Abu Bakar lebih berat melebihi iman seluruh penduduk bumi".

Dan, Paklik Syadzili telah menunjukkan loyalitas itu. Berjuang menebarkan cahaya ilmu di tengah kegelapan moral hingga saat itu semangat juang itu tetap tak pernah padam. Meski kehidupan pribadinya sering terhimpit kesulitan ekonomi, tapi bila ada panggilan masjid, semua problem menjadi jauh lebih kecil dibanding dedikasi untuk memakmurkan masjid Allah dan mendakwah Islam untuk generasi mendatang.

Terima Kasih, Paklik Syadzili. Perjuangan Paklik takkan pernah dilupakan jamaah Masjid Muritsul Jannah, apalagi oleh Allah swt, Dzat Yang Tak Pernah Tidur. Dia telah mencatat bahwa Paklik Syadzili adalah salah satu dari pejuang yang berani berkorban apa saja demi membumikan al-Quran di rumah Allah swt.

04 November 2012

Ustadz Rifa'i adalah Mutiara



Masih teringat, saat itu usia saya masih sekitar empat tahunan. Tapi, oleh orang tua, setiap sore bakda asar, saya telah diantar menuju Masjid Muritsul Jannah, sebuah masjid kecil yang terletak di dalam kampung. Ukuran masjid itu tidak sebesar saat ini. Namun, tiap sore hari, masjid yang berdiri sejak 1965 itu selalu ramai dengan anak-anak kecil yang mengaji al-Quran.

Mereka menyebut "Ngaji Turutan" karena kitabnya tipis, hanya berisi juz 30 dan diawali dengan Kaidah Baghdadiyah, sebuah kitab kuno yang ternyata telah berhasil mengantarkan banyak anak-anak muslim mampu membaca al-Quran.

Ketika itu, sekitar tahun 1981, kali pertama saya mengaji di masjid tersebut bersama teman-teman sekampung. Jelas, sayalah murid paling kecil dan paling muda. Sementara itu, teman-teman saya telah duduk di bangku SD, SMP dan kebanyakan sudah lulus atau putus sekolah.

Sebagaimana ngaji ala kampung, metode yang digunakan oleh "My First Teacher" adalah metode tradisional seperti setoran. Murid yang datang lebih awal, mendapat giliran lebih dulu, satu persatu. Guru membaca, murid menirukan. Lebih mementingkan hafalan dan belum ada metode dan strategi khusus, apalagi kurikulum.

Guru pertama saya itu adalah Ustadz Rifa'i yang oleh masyarakat lebih akrab dipanggil "Cak i". Saat itu, usia beliau sekitar 35-40 tahunan. Cak i adalah sosok penyabar, lembut, supel, mudah bergaul dengan siapa saja, dan yang masih teringat adalah sikap kesederhanaan dan kesahajaan beliau.

Saya kurang tahu benar, apakah Ustadz Rifa'i itu asli kelahiran kampung Gang Muris atau bukan? Namun yang jelas, guru saya itu laksana garam yang cepat menyatu dengan umat. Saya juga tidak tahu, sebelumnya beliau pernah mondok atau mengaji kepada siapa? Namun yang masih tergiang hingga kini adalah suaranya yang indah saat mengajari saya huruf-huruf al-Quran.

Setiap bakda asar, Ustadz Rifa'i sudah stand by di masjid, menanti para muridnya datang. Kepada anak-anak kecil, beliau sangat akrab dan dapat menyentuh sisi-sisi terdalam di dunia anak sehingga tak salah apabila sosok Ustadz Rifa'i masih dikenang hingga kini.

Jika melihat kondisi ekonomi rumah tangganya, benar-benar memprihatinkan. Ustadz Rifa'i bersama keluarga besarnya hanya menempati sebuah rumah kecil di sebelah timur daya masjid. Dengan berjalan 10-15 langkah dari rumah, sudah tiba di pintu masjid. Sangat dekat. Kedekatan ini yang barangkali juga mendekatkan hati Ustadz Rifa'i dengan rumah Allah.

Rumah Sang Guru Ngaji itu sangat sempit untuk ditempati pasangan suami-isteri beserta anak-anaknya yang kalau tidak beliau dikarunia 3 orang anak. Lebar rumah itu sekitar 3x3 meter, bagian depannya masih terbungkus bambu dan boleh jadi lebih tepat disebut "gubuk" daripada rumah hunian.

Sungguh memprihatinkan. Selain mengajar ngaji, sehari-hari, Ustadz Rifa'i bekerja sebagai tukang kebun di Sekolah Dasar Negeri I Kotalama Malang. Sebelum matahari terbit, Sang Guru Ngaji itu telah berangkat menuju gedung sekolah untuk menyapu lantai, menata bangku, menyirami tanaman, mempersiapkan keperluan proses belajar-mengajar dan sebagainya.

Jika jam sekolah selesai, di rumah, Ustadz Rifa'i membantu isterinya menjahit pakaian, itupun kalau ada konsumen yang memerlukan jasa jahit. Selebihnya, Ustadz Rifa'i bekerja serabutan agar dapur tetap mengepul. Bekerja apapun asalkan halal dan mampu dikerjakan, bagi beliau, adalah sebuah anugerah yang harus dilaksanakan dalam kehidupan di dunia.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan dan seringkali juga kekurangan itu, sama sekali tidak pernah menyurutkan tekad Ustadz Rifa'i berkhidmat untuk masjid. Demi masjid, beliau akan mengerahkan segala daya dan upaya agar rumah Allah makmur, ramai dengan orang beribadah dan menuntut ilmu.

Satu kata saja yang ingin saya apresiasikan untuk Ustadz Rifa'i, "MENGAGUMKAN". Bagaimana tidak mengagumkan, dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, akan tetapi kecintaan terhadap ilmu dan istiqamahnya justu tidak terbatas.

Jika dilihat dari perspektif ekonomi yang memiliki kaidah umum "Modal dengan seminim-minimnya untuk laba sebesar-besarnya", maka pada hakikatnya, Ustadz Rifa'i adalah orang yang sangat beruntung. Inilah yang tidak banyak dilihat orang awam tentang sosok mulia Ustadz Rifa'i.

Betapa banyak orang kaya dengan fasilitas hidup mewah dan serba ada, namun ternyata dedikasinya terhadap masjid, sekolah, dan ilmu pengetahuan, sangat rendah. Ada banyak orang kaya yang punya waktu luang dengan uang berlebih, tapi yang istiqamah dari mereka dapat dihitung dengan jari.

Beda dengan Ustadz Rifa'i, keterbatan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk mengabdi kepada Allah dengan memakmurkan masjid-Nya, mengajar anak-anak muslim tentang bagamaina membaca Kalam-Nya dan memelihara sekolah anak bangsa agar mudah mencapai cita-cita.

Selain bekerja dan mengajar ngaji, Ustadz Rifa'i juga tidak pernah absen belajar dengan mengikuti pengajian rutin di masjid. Setiap kali ada pengajian, beliau selalu hadir dan tampak berada di urutan terdepan. Salah satu yang saya tahu, Ustadz Rifa'i selalu hadir di tengah majlis pengajian al-Quran dan tafsir yang diasuh KH Basori Alwi yang hingga saat ini pengajian itu masih terus berlangsung istiqamah.

Sekali lagi, Ustadz Rifa'i sangat mengagumkan. Beliau benar-benar mencintai al-Quran dan itu dibuktikannya dengan terus mengajar dan belajar. Beliau tidak hanya memakmurkan masjid dengan mengajar anak-anak ngaji, tapi beliau sendiri juga ngaji.

Inilah yang kini mulai langka, apalagi di majelis pengajian rutin yang diadakan di dalam masjid kampung seperti Muritsul Jannah. Bila ada pengajian rutin, orang kampung yang hadir hanya sedikit, tidak sampai 20 orang. Fakta ini sudah ada sejak dulu dan anehnya juga masih berlangsung hingga hari ini. Realitas seperti ini, saya kira juga dialami masjid-masjid lain yang pengajian rutinnya sepi peminat. Tapi, beda dengan Ustadz Rifa'i. Asalkan tidak sedang bepergian ke luar kota, pria berkulit bersih itu akan selalu menghadiri pengajian di masjid. Sosok seperti beliau ini, saya kira sudah langka.

Tahun 1988, sebelum saya berangkat ke pesantren, saya berpamitan kepada Ustadz Rifa'i. Saat itu beliau bertanya, "Mau mondok dimana?" "PIQ, pondoknya Kiai Basori", jawab saya. Mendengar hal itu, saya melihat raut wajah beliau tampak gembira menyaksikan muridnya akan melanjutkan studi. Lalu, beliau berkata, "Saya ingin sekali bisa mengaji al-Quran seperti Kiai Basori, meski berusia lanjut, tapi suara dan tajwidnya sangat fasih". Setelah bersalaman dan mohon doa restu, saya pun berpamitan kepada beliau.

Kini, kalimat Ustadz Rifa'i baru saya pahami, bahwa sebenarnya beliau memiliki tekad besar untuk terus belajar. Guru saya itu juga ingin anak-anaknya bisa mendapat kesempatan mondok dan bersekolah yang berkualitas. Tapi, kondisi tidak memungkinkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Meski demikian, beliau masih tetap bersyukur karena di masjid yang berdekatan dengan rumahnya itu, masih dihampiri para kiai dan ulama besar yang rela datang ke masjid untuk mendakwahkan Islam sehingga kesempatan menuntut ilmu masih terbuka lebar di tengah berbagi himpitan dan kesempitan.

Sekitar awal tahun 90-an, saat saya masih mondok, Ustadz Rifa'i telah berpindah rumah dari kampung Muris, Kotalama Malang. Bersama seluruh keluarganya, beliau "hijrah" ke rumah barunya di daerah Kedung Kandang Malang.

Kira-kira tahun 1996, Ustadz Rifa'i pernah mengundang saya ke rumahnya. Saat itu, saya dihubungi oleh salah satu putranya yang meminta saya untuk memberi ceramah di sebuah mushalla dekat rumah Ustadz Rifa'i. Saya pun yang saat itu masih mondok di Singosari, sangat senang menerima undangan tersebut. Inilah kesempatan untuk bisa bertatap muka dan bersilaturrahim dengan guru saya.

Ketika tiba di lokasi, saya melihat kondisi kesehatan Ustadz Rifa'i sudah mulai menurun. Beliau mengaku sering sakit-sakitan. Uban di rambutnya merata di sela-sela kopyah hitamnya. Tapi, senyum dan wajah teduhnya masih tetap sama. Ada pancaran nur al-Quran pada sosok beliau yang berhati tawaddhu' dan berkarakter istiqamah itu.

Di mushalla tempat saya memberi ceramah tentang "Maulid Nabi Muhammad saw", ada banyak anak kecil dan pemuda yang hadir di acara itu. Ternyata, motor penggerak dan guru ngaji di mushalla itu adalah salah satu putra Ustadz Rifa'i. Tak salah jika pepatah berkata, "Buah yang jatuh, tak jauh dari pohonnya".

Ustadz Rifa'i, dengan segala keterbatasan, ternyata telah berhasil mencetak anak-anak dan murid-murid yang sukses menggapai cita-cita. Inilah karya terbesar dari sosok Cak i yang perlu diteladani. Perjalanan hidupnya telah mengajarkan bahwa sesulit apapun problema kehidupan di dunia, takkan sesulit menjaga istiqamah.

Dengan istiqamah akan melahirkan lebih dari seribu karamah. Ada hikmah besar dibalik perjuangan berat demi masjid, al-Quran dan sekolah, yang itu telah dibuktikan oleh Ustadz Rifa'i.

Kini, guru pertama saya di masjid itu telah pergi ke haribaan Allah swt. Boleh jadi, sudah banyak orang yang melupakan perjalanan hidupnya. Laksana mutiara, memang tak banyak orang yang bisa membedakannya dengan batu. Tapi, dengan tulisan ini, ingin saya ingatkan kembali tentang sosok Cak i.

Ustadz Rifai laksana mutiara mengagumkan yang hilang karena tak banyak dikenang. Tapi bagiku, dari dulu, kau tetaplah pelita yang cahayanya terang benderang. Selamat jalan guruku, tetaplah tersenyum karena masjidmu kini akan meneruskan amal jariyahmu.

27 Juli 2012

Kiai Qurtubi


Rumah Kiai Qurtubi terletak tepat di utara Masjid Muritsul Jannah dan bersebelahan dengan masjid. Hingga kini, posisi rumah itu tetap seperti semula dan berdiri kokoh. Tidak hanya rumah sebagai tempat tinggal, tapi juga tersedia ruangan untuk tempat pengajian bagi anak-anak kampung yang belajar al-Quran kepada beliau.

Sebagai tokoh masyarakat dan juga Kiai Kampung, Kiai Qurtubi dengan letak rumahnya yang dekat dengan masjid, memposisikan beliau, meminjam istilah sepak bola, sebagai "penjaga gawang" yang tepat. Bila imam rawatib berhalangan, maka jelas Kiai Qurtubi yang mewakilinya.

Apalagi untuk imam shalat Dhuhur dan Asar yang waktunya di siang dan sore hari, waktu kerja bagi mayoritas warga yang berprofesi sebagai pedagang, maka imam yang tepat untuk kedua waktu shalat ini adalah Kiai Qurtubi. Sungguh berat amanat tersebut. Namun, bagi kiai penyabar ini, hal itu bukan menjadi masalah. Malah, beliau melaksanakannya dengan istiqamah dan senang hati.

Laksana "jimat", Kiai Qurtubi adalah salah satu sosok sentral dalam pengembangan kehidupan beragama. Selain menjadi imam rawatib dan guru ngaji, beliau adalah pemimpin acara tahlil rutin di kampung blok Muris Kotalama yang mewadahi warga di 2 RT. Tiap malam Jumat, secara bergiliran dari rumah ke rumah, Kiai Qurtubi rutin memimpin lantunan tahlil untuk mendoakan arwah para leluhur.

Selain itu, tiap Jumat legi pagi hingga sore, di Masjid Muritsul Jannah selalu diselenggarakan Khotmil Quran. Acara rutin ini telah berlangsung sejak tahun 1999 hingga saat ini. Nah, sebelum pembacaan ayat-ayat suci al-Quran oleh para huffadz dan qari', selalu diawali dengan tawassul dan kirim doa dengan membaca surah al-Fatihah bagi para ahli kubur yang terdaftar nama-namanya. Acara pembuka ini, selalu dipimpin oleh Kiai Qurtubi sebagai sesepuh.

Sepak terjang beliau dalam memimpin aktifitas ritual bagi warga, hingga kapanpun tidak bisa dilupakan. Jasanya dalam mengajarkan al-Quran kepada anak-anak kecil dan generasi muda, akan terus dikenang dan diabadikan sebagai amal jariyah bagi Kiai Qurtubi yang dikaruniai umur panjang oleh Allah swt.

Bukan hanya mengajar saja, akan tetapi, Kiai Qurtubi juga ikut tetap menuntut ilmu. Inilah figur santri yang sesungguhnya, mengajar tapi juga terus belajar. Sewaktu KH Abdullah Sattar Hilmi masih hidup dan menjadi perintis Masjid Muritsul Jannah di tahun 70an, Kiai Qurtubi adalah salah satu muridnya.

Demikian juga dengan Alm. KH Muhsin, Pengasuh Ponpes Al-Maqbul Bululawang itu adalah guru Kiai Qurtubi. Tiap minggu pagi, Kiai Qurtubi bersama beberapa jamaah di Blok Muris Kotalama, berangkat ke Ponpes Al-Maqbul untuk menuntut ilmu agama.

Kiai Qurtubi wafat tepat hari Jumat. Sebelum dimakamkan, jenazahnya disemayamkan di Masjid Muritsul Jannah untuk dishalati. Itulah momen terindah bagi beliau. Seakan-akan, beliau berpamitan untuk terakhir kalinya kepada masjid dan juga kepada semua jamaah.

Menurut as-Sawqy, penyair ternama yang dijuluki sayyidus syu'ara' atau raja penyair, berpandangan bahwa orang yang baik adalah orang yang saat meninggal dunia, ia sanggup tersenyum gembira dengan apa yang diraihnya selama hidup, sementara orang lain yang ditinggalkannya justru menangis karena merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Dan, tak diragukan lagi, Kiai Qurtubi adalah salah orang baik itu. Kepergiaannya mampu membuat masyarakat merasa kehilangan sosok yang selama ini turut mendampingi mereka dalam menjalankan aktifitas ibadah. Sang Kiai pembimbing jiwa itu telah pergi dengan meninggalkan sederet jejak yang bisa diteladani.

Selamat Jalan Kiai Qurtubi, semoga Kiai berbahagia di kehidupan akhirat sana.

15 Juli 2012

KH Mustaid Imron


Kiai Gang Muris adalah nama populer yang disematkan pada sosok KH Mustaid Imron. Julukan itu tidak lepas dari peran besar di Masjid Muritsul Jannah yang kebetulan terletak di dalam kampung, tepatnya di Gang Muris Kebalen Wetan Malang.

Beliau adalah ulama yang sabar, rendah hati, low profile dan figur pengayom bagi umat. Namun di balik sosok kesederhanaannya, tersimpan lautan ilmu pengetahuan agama yang sangat dalam. Hampir setiap saat, beliau tidak lepas dari ilmu. Mengaji dan mengajar adalah hidupnya. Sebuah pengabdian mulia yang patut diapresiasi.

Berasal dari keluarga Jawa, tepatnya dari komunitas warga Kudus yang tersebar di Kotalama, Kiai Mustaid adalah kiai yang bisa diterima semua kalangan. Tua, muda, pria, wanita, dari suku Jawa maupun Madura, semua merasa senang mengaji kepada Kiai yang sehari-hari berprofesi sebagai penjahit kain ini.

Dikaruniai 8 orang anak terdiri dari 2 laki-laki dan 6 perempuan, Kiai Mustaid menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan. Tidak mudah menanggung hidup keluarga besar di tengah aktivitasnya yang juga mengabdi untuk umat. Namun, beliau sanggup membagi waktu dan memberi sebuah keteladanan, bahwa bagaimanapun juga dunia itu penting, namun jangan sampai urusan duniawi mengalahkan kepentingan ukhrawi.

Itulah poin penting yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Kiai Mustaid yang dulu setiap subuh selalu bertindak sebagai imam tetap di Masjid Muritsul Jannah. Selepas shalat, beliau senantiasa memberi pengajian umum atau kuliah subuh kepada jamaah hingga waktu duha tiba. Sebuah istiqamah yang sulit ditandingi.

Untuk kalangan manula, cara mengajar Kiai Mustaid sangat diminati. Suaranya merdu, perangainya kalem sehingga dalam menjelaskan sebuah ilmu, dapat tersampaikan dengan pelan-pelan sehingga mudah dimengerti oleh mereka yang telah lanjut usia.

Selain menjadi imam rawatib, khatib tetap dan mengajar di Masjid Muritsul Jannah, Kiai Mustaid juga bagian dari pengurus dan guru di Yayasan Pendidikan Darus Sholihin Kotalama yang akhir-akhir ini terus menampakkan kemajuan. Beliau adalah salah satu perintis sekaligus pengajar di Madrasah Diniyah Darus Sholihin Kotalama, madrasah diniyah pertama di wilayah Kotalama Malang.

Kiai Mustaid juga banyak berkiprah dalam pembinaan thariqat atau istighatsah di kalangan jamaah Masjid Muthahhar Jodipan. Acara itu biasa mereka sebut "khususiyyah". Melalui dzikir, Kiai Mustaid ingin menanamkan aspek pendalaman spiritual agar umat memiliki ketahanan mental dan iman yang teguh dalam menghadapi segala macam permasalahan hidup.

Masih teringat, bagaimana beliau memimpin pembacaan "hizib nashar" tiap menjelang pertengahan malam. Usaha batiniyah ini digagas oleh Kiai Mustaid dan diikuti semua pengurus takmir Masjid Muritsul Jannah guna membentengi diri dalam jihad melawan kemungkaran.

Saat itu, tepatnya di tahun 1993, warga dan jamaah masjid sedang berhadapan dengan para pemilik hotel dan pebisnis "esek-esek" yang tumbuh subur di jalanan dan kampung Kebalen Wetan. Usaha spiritual ini guna mendukung upaya negosiasi dan politik untuk menutup hotel-hotel berbasis seks di Kebalen Wetan.

Dengan izin Allah, usaha itu berhasil. Tahun 1994, semua izin usaha bisnis haram itu dicabut dan selamanya tidak boleh lagi bercokol di Kebalen Wetan, apapun alasan dan kondisinya. Keberhasilan ini tidak lepas dari kekuatan doa dan hizib yang dikomandoi Kiai Mustaid Imron. Juga, bantuan doa para ulama dan kiai se-Malang Raya.

Kiai Mustaid Imran pulang ke rahmatullah di usia 66 tahun. Dua tiga tahun sebelum wafat, beliau masih aktif berkhutbah di Masjid Muritsul Jannah. Masih terekam dalam ingatan, bagaimana ekspresi beliau saat khutbah dalam kondisi sakit. Beberapa kali Sang Khatib ini sering menitikkan air mata saat khutbah, terutama ketika membahas maut dan akhirat.

Beliau tidak menghembuskan nafas terakhir di  rumahnya yang berlokasi di kampung Kotalama. Namun, Kiai yang sedang berjuang melawan stroke ini, dipanggil oleh Allah saat beliau beristirahat di kediamannya di kampung Perusahaan, Jagalan, Malang pada tahun 1999.

Kepergiaannya menyisakan duka mendalam di kalangan jamaah Masjid Muritsul Jannah. Kiai Gang Muris itu telah kembali keharibaan Allah dengan mewariskan banyak ilmu, kenangan dan teladan yang patut ditiru oleh generasi sesudahnya. Selamat Jalan, Kiai.

14 Juli 2012

Dari Habib Alwi ke Habib Sholeh

H.A. Suyuti (Takmir) & Habib Alwi Al-Aydrus

Meski Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang berada di tengah perumahan padat penduduk, tepatnya di dalam kampung blok muris, namun, jika melihat data sejarah tentang para ulama yang pernah singgah di sana, bisa dikatakan masjid ini memiliki poin lebih.

Pasalnya, tidak sedikit para ulama dan kiai pernah turut andil membina dan memberi pencerahan di masjid yang tahun 2012 ini akan direnovasi. Di antaranya, KH Abdullah Sattar Hilmi (Gondanglegi), KH Yahya (Gading), Kiai Kiromun (Kotalama), KH Abdus Syakur (Tanjung), KH Hamid Umar (Kidul Pasar), KH Hasyim Mudzadi (PBNU), Habib Alwi Al-Aydrus (Tanjung) hingga kini KH Basori Alwi (Singosari) dan Habib Sholeh Al-Aydrus (Malang).

Melihat sederet nama besar di atas pernah singgah di Masjid Muritsul Jannah, maka tak heran bila di tahun 1980an, masjid ini dikenal sebagai masjid jamik-nya warga Kelurahan Kotalama Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Sebuah masjid yang disegani dan menjadi kiblat bagi masjid-masjid di sekitarnya.

Menyebut nama Habib Alwi Al-Aydrus, pasti nama ini sudah tidak asing lagi bagi warga Malang. Beliau adalah sosok ulama yang alim dan menguasai berbagai bidang studi agama Islam, terutama dalam hal fiqih. Semasa hidupnya, Habib Alwi rujukan bagi para kiai dan "kitab berjalan" bagi umat dalam meminta fatwa atau keputusan hukum tentang suatu permasalahan agama.

Suatu hari, H. Suyuti sebagai takmir masjid, bersama KH Mustaid Imron sebagai tokoh kiai di kampung, keduanya berinisiatif untuk mendatangkan Habib Alwi al-Aydrus supaya berkenan mengisi pengajian secara rutin di Masjid Muritsul Jannah. Namun, melihat "jam terbang" Habib Alwi yang cukup padat dan kegiatan mengajar beliau di ndalemnya yang hampir non-stop, keinginan itu awalnya sempat meragukan.

"Akankah Habib Alwi bersedia?" Pertanyaan ini menyelimuti para pengurus takmir yang saat itu benar-benar berharap Sang Habib berkenan memberi pengajian rutin. Selain jadwal beliau yang padat, saat itu, daerah Kebalen Wetan masih dikenal dengan "Zona Remang-remang". Ada sekitar 7 hotel yang berdiri di pinggir jalan Kebalen dan semuanya bisnis esek-esek.

Apakah dengan faktor di atas, Habib Alwi bersedia ke Masjid Muritsul Jannah? "Kita harus mencoba. Besok pagi, kita berziarah dan matur ke beliau", ucap Kiai Mustaid memberi semangat. Akhirnya, pagi bakda subuh, Kiai Mustaid ditemani H. Suyuti bertamu ke rumah Habib Alwi untuk menyatakan maksud tersebut.

"Wah, Pak Haji... Jadwal saya ini sebenarnya padat. Kalau pengajian rutin di Masjid Muris seminggu sekali, maaf saya tidak bisa. Tapi, kalau sebulan sekali, insya Allah, saya sanggup demi dakwah di Kebalen Wetan", jawab Habib Alwi.

Akhirnya, Habib Alwi pun secara istiqamah mengisi pengajian rutin tiap Jumat Pertama di awal bulan yang diselenggarakan bakda Maghrib hingga Isyak. Setelah shalat Isyak berjamaah, beliau dijamu oleh takmir sambil meladeni para jamaah yang hendak bertanya tentang masalah agama dan pribadi. Usai dari Kebalen Wetan, beliau berangkat ke masjid di Buring Kedungkandang untuk meneruskan pengajian di sana.

Sungguh beruntung, Masjid Muritsul Jannah pernah disinggahi Habib Alwi al-Aydrus, sosok ulama besar di Malang yang namanya bahkan di segani di kalangan para kiai dan ulama. Saat beliau dipanggil oleh Allah swt sekitar tahun 1996, langit kota Malang mendung. Tangis umat membanjiri bumi Arema. Akankah ada penerus dan pengganti Habib Alwi al-Aydrus?

Berbeda dengan manusia pada umumnya. Bila seorang kiai atau ulama meninggal dunia, penggantinya yang sepadan atau paling tidak, penerusnya, belum tentu langsung ada pada saat itu juga. Lain dengan sepeninggal pejabat, wakil dan penggantinya sudah siap bahkan berebut kursi yang ditinggalkannya.

Ternyata benar, pertanyaan di atas baru 10 tahun kemudian. Tepatnya, saat Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim al-Aydrus berkenan memberi pengajian rutin di Masjid Muritsul Jannah sebulan sekali, tiap Jumat Kliwon, bakda Maghrib hingga Isyak. Habib Sholeh ingin meneruskan perjuangan Habib Alwi al-Aydrus di kampung Kebalen Wetan Blok Muris Kotalama Malang.

Yah, untuk melanjutkan perjuangan Habib Alwi dan dakwah di Masjid Muritsul Jannah, Habib Sholeh secara istiqamah berkenan hadir di masjid yang walaupun letaknya di dalam perkampungan dan jumlah jamaah yang hadir tidak lebih dari 50 orang.

Bagi Sang Habib, bukan jumlahnya yang terpenting, tapi kualitas jamaah dan peninggalan karamah serta jejak perjuangan para ulama dan habaib di Masjid Muritsul Jannah adalah jauh lebih penting. Beliau yakin, kelak dari masjid itu akan lahir para generasi penerus yang siap berjuang dengan sepenuh jiwa dan raganya.

27 Juni 2012

KH Ahmad Ghozali


Ada Kiai Zainuddin MZ dari Kebalen, benarkah? Yah, beliau bernama lengkap KH Achmad Gozali  yang asli berdomisili di Kebalen Malang. Beliau dikenal demikian, karena intonasi dan gaya orasinya mirip dengan dai kondang, KH Zainuddin MZ asal Jakarta.

Gaya ceramah Kiai Ghazali -demikian nama populernya- selalu membuat para hadirin dan jamaah terpukau. Artikulasinya bagus, suaranya jelas dan intonasinya tepat. Materi dakwah yang disampaikan, kerapkali diselingi humor sehingga audien pun terhibur.

Di Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang, Kiai Ghazali tercatat sebagai khatib tetap. Setiap bulan, beliau terjadwal untuk menyampaikan khutbah Jumat. Tepatnya, di setiap jumat pertama. Kiai yang tidak pernah lepas dari kacamata ini, sangat santun dan lihai dalam menyampaikan materi ceramah. Bukan hanya pada saat khutbah jumat saja, tapi dalam berbagai kesempatan, beliaulah ahlinya dalam mempresentasikan materi melalui orasi yang memukau.

Sangat beruntung sekali, di Masjid Muritsul Jannah pernah ada napak tilas perjuangan Kiai Ghazali dalam mendakwahkan Islam. Durasi khutbahnya seakan terasa cepat, meskipun sebenarnya lama. Jamaah bagai terhipnotis dengan kata-kata yang ia tata rapi sehingga waktu pun terasa sebentar. Inilah kehebatan Kiai Ghazali.

Beliau juga tercatat sebagai Pengurus Syuriah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di kalangan pengurus dan warga NU Malang, Kiai Ghazali sangat dikenal sebagai "dai kondang". Dalam berdakwah, beliau memang sengaja menempuh berbagai jalur. Bukan hanya dari mimbar Jumat atau pengajian rutin saja. Tapi, juga melalui aktifitasnya di organisasi politik maupun organisasi sosial keagamaan.

Dengan skill orasi yang mumpuni dan jaringan silaturrahim yang dibangun, bisa dikatakan, bahwa Kiai Ghazali adalah salah satu ulama yang ingin terus berinteraksi dengan umat. Ajakannya untuk selalu menjaga persatuan, membina keakraban dan menghormati keragaman adalah ajakan mulia dari Sang Kiai.

Kiai Ghazali juga biasa diundang ceramah oleh warga yang kebetulan punya hajatan, seperti dalam acara kemanten, peringatan hari besar Islam, hari besar nasional dan di even-even lainnya. Fenomena ini merupakan salah satu bukti pengakuan dan apresiasi umat kepada beliau sebagai sosok dai bertalenta tinggi.

Kini, Kiai Ghazali telah berpulang ke rahmatullah. Jauh lebih dulu daripada idolanya, KH Zainuddin MZ. Meninggalnya begitu mendadak. Sabtu itu, setelah beliau bercanda dengan cucunya, lalu berpamitan untuk istirahat. Betapa terkejut seluruh keluarganya, saat diketahui bahwa Sang Kiai telah menghembuskan nyawa terakhirnya.

Begitu mudahnya beliau dipanggil Allah swt. Padahal, secara fisik, orang melihatnya tampak segar bugar. Tapi, takdir berkata lain. Allah telah berkehendak untuk memanggil dan mengistirahatkannya setelah beliau lama malang melintang berdakwah dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung hingga ke luar kota dan ke daerah terpencil sekalipun.

Sang Orator telah pergi untuk selamanya. Namun, namanya akan terus dikenang. Ceramahnya seakan masih terngiang di telinga dan terdengar melalui sound system Masjid Muritsul Jannah. Selamat Jalan, Kiai. Semoga kelak, masjid ini dan jamaahnya bersaksi bahwa Kiai Ghazali adalah manusia baik dan layak masuk surga.

26 Juni 2012

Pak Hasyim dan Masjid Muritsul Jannah

KH Hasyim Muzadi saat di Masjid Muritsul Jannah

Ternyata, KH Hasyim Muzadi juga pernah mengisi pengajian rutin di Masjid Muritsul Jannah. Malah, sekali dalam seminggu, tiap hari Ahad malam Senin, Pak Hasyim -begitu panggilan akrabnya di kalangan warga Kebalen- selalu istiqamah mengajar kitab al-Hikam.

Yah, kitab karya Ibnu Athaillah yang sarat makna filosofis itu, oleh Pak Hasyim disampaikan dengan bahasa yang mudah diterima para jamaah sambil diselingi guyonan khas mantan Ketua Umum PBNU itu. Jamaah pun mengaku enjoy saat mendengar uraian kitab al-Hikam. Meski materinya berat, namun mudah dimengerti.

Pengajian rutin yang diasuh Pak Hasyim Muzadi ini sudah dimulai sejak pertengahan tahun 80an hingga tahun 1990. Hampir 10 tahun, Pak Hasyim memberi tawsiyah di Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang. Cukup lama sekali sehingga tidak salah jika nama masjid ini masih menjadi nostalgia mendalam bagi mantan cawapres RI tersebut.

Ketika itu, kota Malang masih sangat dingin, tidak seperti saat ini yang udaranya mulai panas dan penduduknya sangat padat. Angkutan umum juga masih menjadi alat transportasi primadona bagi warga Arema, terutama "Bemo". Kendaraan roda tiga inilah yang digunakan Pak Hasyim berangkat dari rumahnya menuju Masjid Muritsul Jannah. Sebuah perjuangan yang patut diapresiasi.

Biasanya, Pak Hasyim naik bemo lalu turun di alun-alun kota Malang. Dari depan Kantor Pos, beliau dijemput Bapak H. Roudhowi sebagai salah satu pengurus takmir dengan menaiki sepeda motor. Dengan dibonceng, Pak Hasyim meluncur menuju masjid. Sebaliknya, setelah pengajian usai bakda shalat Isyak berjamaah dan dijamu oleh Takmir, Pak Hasyim pun diantar kembali ke alun-alun dengan berboncengan. Di sana beliau naik bemo lagi untuk pulang ke rumahnya.

Begitulah aktifitas rutin KH Drs Hasyim Muzadi tiap hari Ahad malam Senin di masa silam. Yakni, mengisi pengajian kitab al-Hikam di Masjid Muritsul Jannah yang tahun 2012 ini akan direnovasi. Pada tahun 1988, ketika renovasi terakhir masjid ini telah diresmikan, kepada Takmir, Pak Hasyim pernah berkata, "Alhamdulillah, Bah. Masjidnya sudah bagus, semoga makin berkah bagi jamaah".

Perhatian KH Hasyim Muzadi terhadap jamaah dan masjid Muritsul Jannah ini memang cukup besar. Keterikatan secara emosional tersebut sungguh mendalam. Betapa tidak, sejak beliau masih belum menjadi Ketua PCNU Kota Malang hingga menjabat Ketua PWNU Jawa Timur dan puncaknya menjabat Ketua PBNU, Pak Hasyim masih tetap peduli terhadap warga Kebalen Wetan Kotalama Malang.

Pada tahun 1999, ketika baru sebulan beliau diangkat menjadi Ketua PBNU, jamaah dan remaja Masjid Muritsul Jannah berencana mengadakan Pengajian Umum untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Dengan beramai-ramai, para pemuda yang dikomandoi Bapak Ngadiyo sebagai ajudan Pak Hasyim sejak lama, bertamu ke ndalem beliau di Jalan Cengger Ayam Malang.

Para pemuda itu diterima dengan ramah oleh Pak Hasyim, meski beliau kelihatan lelah selepas menerima tamu sejak pagi. Selain mengucapkan selamat atas terpilihnya Pak Hasyim sebagai Ketua Umum PBNU, para remaja masjid juga memberanikan diri mengundang dan memohon kesediaan Pak Hasyim menjadi pembicara pengajian umum.

"Wah...wah, arek-arek iki opo gak sadar, lek sak iki ngundang Ketua PBNU", kelakar Pak Hasyim yang langsung disambut tawa. Karena nostalgia dan keterikatan yang sangat mendalam dengan jamaah Muritsul Jannah, Pak Hasyim pun seperti tidak bisa menolak.

"Baiklah, saya bersedia. Asalkan, 30 menit sebelum acara inti, saya ditelpon ya supaya saya tidak lama menunggu di sana, dan saya akan langsung berangkat", ujar beliau.

"Siap, Pak!", jawab Pak Abdullah Ngadiyo, sosok yang sejak lama menjadi ajudan Pak Hasyim Muzadi. Pak Yo -begitu panggilan akrabnya- sejak muda telah menjadi aktivis NU. Sepanjang hidupnya telah diperjuangkan demi Nadhlatul Ulama. Mulai aktif di Ansor, Pagar Nusa hingga kini pun, tetap peduli terhadap NU dan bahkan diteruskan oleh putra-putrinya.

Begitu KH Hasyim Muzadi benar-benar hadir di tengah Pengajian Umum, warga pun beramai-ramai mendengarkan tawsiyah beliau. "Ini pengajian spesial", kata Panitia. Pasalnya, pembicara inti adalah Ketua PBNU. Yang patut dicatat, pengajian umum dan terbuka ini adalah pengajian pertama di kota Malang dimana Pak Hasyim bertindak sebagai narasumber pasca diangkat menjadi Ketua PBNU.

Dengan kata lain, hingga kapan pun, KH Hasyim Muzadi masih tetap di hati jamaah Masjid Muritsul Jannah. Sebaliknya, masjid dan jamaah ini juga tidak bisa dilupakan oleh beliau, meski jabatan yang diembannya sudah melambung tinggi.

Inilah sepenggal sejarah yang menunjukkan betapa Masjid Muritsul Jannah tetap menjadi persinggahan para habaib, ulama dan kiai besar. Di masjid itu, pernah hadir hamba-hamba Allah yang shalih. Dan kini, menjadi kewajiban generasi muda memakmurkan rumah Allah.

Masjid, ulama dan pemuda, ketiganya ini adalah kunci utama dalam memakmurkan masjid Allah. Masjid tanpa ulama akan kering. Masjid tanpa pemuda akan mati. Ulama yang jauh dari masjid, bukanlah ulama sesungguhnya. Demikian juga pemuda, ia takkan pernah bisa menjadi tokoh besar selama ia tidak punya pengalaman memakmurkan rumah Allah di muka bumi.

10 Juni 2012

Mengenang Kiai Baidhowi

Tidak banyak yang kenal, siapa KH Baidhowi dari Pandean Blimbing Malang. Boleh jadi, karena memang sosok beliau yang low profile dan tawaddu'. Namun, jika mengikuti pengajian rutinnya di Masjid Muritsul Jannah, tampak jelas kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya.

Pesantrennya di kampung Pandean Blimbing hanya dihuni beberapa santri yang menetap. Meski demikian, jika pengajian umum digelar di sana atau di masjid yang ada di dalam area pesantrennya, selalu dikunjungi jamaah dari berbagai tempat. Kiai Baidhowi sangat ahli di bidang fiqih sosial. Kritiknya cukup tajam. Teguh memegang prinsip Ahlissunnah Wal Jamaah.

Itulah karakter yang terbangun pada kiai berperawakan kecil, tapi ilmunya sebesar gunung. Warga Kebalen Wetan patut bersyukur. Pasalnya, Kiai Baidhowi pernah menjejakkan langkah dakwahnya melalui pengajian rutin yang diselenggarakan tiap Jumat malam Sabtu, mulai Maghrib hingga tiba waktu Isyak di Masjid Muritsul Jannah.

KH Masduqi dan KH Baidhowi (Saat di rumah Takmir)

Oleh anak-anak setempat, Kiai Baidhowi kerap dijuluki "Kiai Manakala" karena beliau sering mengucapkan kata "manakala" saat menyampaikan materi hukum Islam. Kata ini memang biasa dirilis dalam kitab-kitab fiqih saat menyajikan sebuah contoh persoalan. Di dalam kitab kuning, "manakala" adalah arti dari kata "lau, in, idza".

Demikian pula dengan "Kiai Manakala", dengan lugas beliau kerap memberikan ilustrasi contoh persoalan yang dihadapi umat, lalu menerangkan solusinya. Metode ini sangat efektif dalam memberi pemahaman terutama kepada masyarakat awam. Sekaligus, menjadi bukti bahwa Kiai Baidhowi cukup mumpuni di bidangnya.

Kiai asal Pandean ini memang low profile. Meski tanpa dijemput pun, dengan istiqamah beliau tetap hadir. Malahan, sebelum maghrib tiba, Sang Kiai sudah i'tikaf di masjid. Dengan naik mikrolet dari Blimbing, beliau tetap sabar untuk bisa hadir memberi pengajian. Terkadang, beliau dibonceng motor oleh putranya.

Sehabis shalat Isyak berjamaah, seperti biasa, Kiai Baidhowi dijamu oleh Takmir lalu diantar pulang dengan kendaraan mobil. Saat jamuan makan, para pengurus takmir yang turut serta, biasanya juga menjadikan kesempatan ini untuk berkonsultasi tentang berbagai masalah, termasuk masalah pribadi atau keluarga.

Sang Kiai melayani hal itu dengan sepenuh hati. Beliau memberi solusi dan jawaban atas berbagai pertanyaan mereka. Dari diskusi kecil inilah, Kiai Baidhowi tampak berusaha membangun karakter umat. Ketulusan, kesabaran dan sifat tawaddhu' yang dimilikinya adalah teladan bagi semua.

Selamat jalan, Kiai Baidhowi. Mungkin saja, tak banyak yang mengenalmu. Tapi, jamaah Masjid Muritsul Jannah akan tetap mengenangmu sepanjang masa. Masjid ini akan menjadi saksi napak tilas perjuangan beliau di muka bumi.

09 Juni 2012

Kuliah Subuh Kiai Hamid

Sepeninggal KH Hamid Umar hingga kini, di Masjid Muritsul Jannah, belum pernah ada lagi pengajian pagi atau kuliah subuh. Hampir semua pengajian rutin diselenggarakan bakda shalat Maghrib atau Isyak, kecuali di bulan Ramadan. Sebab, khusus di bulan suci, semua pengajian malam dialihkan bakda Subuh.

Kiai Hamid, demikian nama populer beliau, adalah sosok yang secara istiqamah memilih waktu bakda subuh untuk memberi tausiyah bagi warga Kebalen Wetan Malang. Salah satu alasannya, kiai asal Kidul Pasar Malang ini ingin membiasakan warga bangun pagi dan shalat subuh berjamaah. Menyambut hari baru dengan shalat dan ilmu, akan semakin menambah keberkahan dan semangat dalam menjalani aktifitas sehari-hari.

Suaranya terdengar kecil, tapi nadanya cukup tinggi. Badannya tegap dan besar, kian menambah kharismanya sebagai sosok ulama yang disegani. Tiap kali mengajar, Kiai Hamid selalu bersandang surban dan terkadang memakai imamah (surban melingkar di kepala). Performance ini memperlihatkan betapa beliau sangat memuliakan ilmu dan menghormati para jamaah, selain juga karena ittiba' terhadap Nabi Muhammad saw yang biasa berkalung surban dan berimamah.

Kiai Hamid Umar berprofesi sebagai mudin Kantor Urusan Agama (KUA). Dulu, kantornya berada di tepi jalan Kolonel Sugiono Mergosono, bersebelahan dengan Pabrik Oepet. Jaraknya sekitar 600 meter dari Masjid Muritsul Jannah. Kini, kantor itu telah tiada dan sudah lama dipindahkan.

Sebagai mudin, beliau sangat profesional dan mendalam ilmunya, terutama terkait dengan masalah-masalah fiqih sosial yang dihadapi umat, seperti: hukum pernikahan, merawat jenazah, peringatan hari besar Islam, waqaf, dan sebagainya. Oleh sebab itu, eksistensi beliau bagi jamaah Masjid Muritsul Jannah sangat penting. Kiai Hamid Umar laksana kitab fiqih berjalan.

Setiap Selasa Pagi, sejak sebelum subuh tiba, Masjid Muristsul Jannah telah dihadiri puluhan warga. Mereka bersama membaca shalawat dan puji-pujian sambil menunggu adzan Subuh dan menanti kehadiran sang imam, KH Hamid Umar. Dengan shalat subuh berjamaah, warga kampung Kebalen Blok Muris terasa damai dalam menjalani suasana pagi yang sejuk.

Lantunan ayat-ayat suci yang dikumandangkan Kiai Hamid dengan suaranya yang menggelegar, ditambah gemuruh bacaan "Amin" dan "Qunut" para jamaah, semua itu membahana melalui pengeras suara yang diletakkan di menara masjid. Selanjutnya, bersamaan dengan kokok ayam jantan, keberkahan turun menyirami bumi Kebalen Wetan. Suasana terasa dingin, teduh, tenang, sejuk, indah dan damai.

KH Hamid Umar dan H.A. Suyuti (Takmir)

Itulah kenikmatan yang hanya bisa dirasakan para ulama dan jamaah yang turut serta dalam pengajian subuh. Masa-masa indah itu sanggup disuguhkan oleh Kiai Hamid sehingga tanpa disadari, secara lambat laun, warga Kebalen menjadi sosok-sosok yang berpikiran jernih berkat ruhani yang terus disirami bersama embun pagi yang suci.

Saat Kiai Hamid berpulang ke haribaan Allah, jamaah Masjid Kebalen Wetan seakan kehilangan sosok kiai yang telah membuka lembaran pagi mereka dengan ilmu dan suasana ibadah. Seakan-akan, kiai sepuh itu belum tergantikan hingga kini.

H. Faqih, KH Hamid Umar, H Katsir Mukmin


Sebuah pepatah mengatakan, "Berpikirlah di waktu pagi, bekerjalah di siang hari, makanlah di waktu sore dan tidurlah di malam hari". Dengan kata lain, jika pagi-pagi kamu telah berfikir, di siang hari kamu akan mudah bekerja. Jika kamu telah bekerja, sore kamu bisa makan. Bila perutmu telah terisi makanan, kamu akan bisa tidur dengan nyeyak di waktu malam.

Waktu pagi di sini adalah masa muda dan kanak-kanak. Waktu siang adalah masa remaja dan dewasa. Waktu sore adalah masa tua. Dan, malam hari adalah waktunya tidur, beristirahat dengan tenang saat kembali ke haribaan Allah.

Kiai Hamid Umar, tampaknya ingin mengajarkan filosofi itu melalui pengajian bakda Subuh yang beliau pilih. Hal ini tidak lain bertujuan agar jamaah Masjid Muritsul Jannah terus optimis menatap masa depan dengan ceria dan penuh semangat. Sebab, kesuksesan meraih cita-cita, harus dimulai sejak hari ini, sejak pagi, sejak dini, sebelum masa sejuk dan indah itu berlalu sia-sia tanpa makna.

Selamat Jalan, Kiai Hamid Umar. Namamu akan selalu dikenang di hati umat selama senja pagi terbit di ufuk timur.

08 Juni 2012

Estafet Kiai Abdullah Sattar


Sejak pertengahan tahun 60an, Kiai Abdullah Sattar Hilmi telah bolak-balik dari ndalem dan pesantrennya di Gondanglegi menuju kampung Kebalen Wetan. Jarak antara kabupaten tempat beliau menetap dengan kota Malang sebagai pelabuhan dakwah, memang cukup jauh sekitar 25-30 km. Namun, itu semua tak menyurutkan beliau untuk berdakwah.

Di kampung Kebalen Wetan sendiri, saat itu masih sepi dan tandus. Penduduknya juga tidak begitu banyak. Mayoritas warganya banyak yang "abangan", tidak seperti saat ini yang didominasi kaum santri. Bahkan, menurut penuturan para sesepuh, di tahun 60an, banyak warga Kebalen yang terdaftar sebagai anggota BTI (Barisan Tani Indonesia) yang merupakan afiliasi PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Selain latar belakang warga Kebalen yang abangan dan kelam, tidak sedikit mereka yang sehari-hari hidup bergelimang maksiat. Hampir tiap malam, di dalam kampung dan jalanan, ada ajang pesta minuman keras, judi, zina dan sebagainya. Keadaan ini yang mendorong Kiai Dullah -panggilan singkat KH Abdullah Sattar Hilmi- untuk rela berjuang dan berkorban demi tegaknya agama Islam di hati masyarakat.

Setiap ke kampung Kebalen Wetan, beliau singgah di rumah H. Ahmad Suyuti sebagai salah satu tokoh perintis Masjid Muritsul Jannah yang saat itu masih berupa langgar. Tahun 1965, sebuah langgar berdiri kokoh di tengah kampung dan diberinama Langgar "Darus Salam" atau "Rumah Keselamatan".

Langgar ini memiliki makna strategis dalam pengembangan dakwah Islam di Kebalen yang mayoritas warganya masih abangan dan awam tentang ajaran Islam, meski mereka mengaku sebagai muslim. Dengan sabar, Kiai Dullah datang ke langgar dan mengajarkan tentang dasar-dasar akidah dan syariat Islam. Kiai kharismatik itu terus istiqamah mengajak warga setempat untuk mendalami Islam dan mengenalkan Allah beserta Rasul-Nya.

Konon, pengajian Kiai Dullah sering dimulai pada pukul 9 malam hingga jam 12. Bukan hanya mengaji al-Quran dan kitab-kitab saja, namun beliau juga mengajak para santrinya berdzikir, beristighatsah, demi sebuah perubahan. Yakni, perubahan dari gelapnya jahiliyah menuju terangnya cahaya iman dan islam.

Di tahun 1970an, langgar "Darus Salam" diperluas. Seiring dengan itu, maka status langgar tersebut dinaikkan menjadi masjid yang lalu oleh Kiai Dullah diberinama "Muritsul Jannah li Ahlissunnah Wal Jamaah". Artinya, pusaka surga bagi muslim berakidah Aswaja. Ketika beliau ditanya, "Mengapa nama itu ditambahi Ahlissunnah Wal Jamaah?". Sang Kiai menjawab, "Kelak, akan banyak masjid menjadi rebutan oleh orang-orang yang beraliran menyimpang dari Islam".

Nama ini juga identik dengan kampung tempat masjid tersebut berdiri kokoh. Yakni, kampung blok muris karena kebetulan di lokasi sekitar masjid ditumbuhi pohon muris. Berdirinya masjid ini disambut gembira oleh para kiai dan tokoh agama setempat. Para ulama yang turut andil membina masjid, antara lain: KH Abdullah Sattar Hilmi (Gondanglegi), KH Yahya (Gading), Kiai Kiromun (Kotalama), H. Muhit (PCNU Malang), H.A. Suyuti (Takmir), dan banyak lagi.

Perjuangan Kiai Dullah telah membuahkan hasil. Banyak para kiai, santri, warga setempat yang mengaji kepada beliau, antara lain: Kiai Qurtubi (Blok Muris), KH Mustaid Imron (Kotalama), H. Supar, H. Roudhawi, H. Zainal Arifin, H. Kholil, Bpk Mursyidi, dan banyak lagi. Bertambahnya jumlah santri yang turut dalam pengajian Kiai Dullah menunjukkan keberhasilan beliau dalam berdakwah.

Selama kurun waktu 10 tahun lebih, Kiai Dullah berjuang di kampung Kebalen. Hingga di tahun 1978, beliau mulai jarang rawuh di Masjid Muritsul Jannah karena faktor kesehatan. Di saat-saat akhir hayatnya, Kiai Dullah berpesan agar supaya H.A. Suyuti sebagai takmir masjid segera mencari pengganti beliau.

"Siapa, Kiai?", tanya Abah Suyuti. "Nak, di Singosari dekat pasar, ada seorang alim bernama Ustadz Basori. Kelak, dia akan menjadi kiai besar. Nama lengkapnya Basori Alwi. Sampaikan salam saya kepada Ustadz Basori agar dia istiqamah berjuang di Masjid Muritsul Jannah".

Saat itu, Ustadz Basori lebih populer dipanggil ustadz. Namanya juga mulai santer terdengar berkat keahliannya dalam tilawah al-Quran. Ketika takmir masjid sowan ke rumah Sang Ustadz dan menyampaikan pesan Kiai Dullah, Ustadz Basori tampak berlinang air matanya. Mungkin saja, itu adalah isyarat bahwa ajal Kiai Dullah sudah dekat. Bagi seorang mukmin, kepergian seorang ulama merupakan musibah yang cukup berat.

Benar, awal tahun 1980an, KH. Abdullah Sattar Hilmi tutup usia. Para kiai, asatidz, tokoh masyarakat dan warga kabupaten dan kota Malang telah ditinggal pergi oleh sosok Kiai Kharismatik yang kuat menjaga prinsip dan istiqamah dalam berjuang. Tak terkecuali, warga Kebalen Wetan dan jamaah Masjid Muritsul Jannah. Kiai panutan mereka telah dipanggil Sang Maha Kuasa.

Berikutnya, tongkat estafet perjuangan Kiai Abdullah Sattar di Kebalen Wetan telah diserahkan kepada Ustadz Basori Alwi. Bagi ustadz asal Singosari itu, tak terbayang sedikitpun, bagaimana nanti beratnya memegang amanah dan meneruskan perjuangan Kiai Dullah dengan istiqamah. Yang penting, bagi beliau, memenuhi wasiat Kiai Dullah sama artinya memenuhi perintah Allah untuk membumikan Islam.

Jarak tempuh yang jauh antara Singosari-Malang, tidak jadi penghalang bagi Ustadz Basori. Sejak tahun 1978 hingga kini, KH, Basori Alwi tidak pernah berhenti mengajar al-Quran dan agama Islam di Masjid Muritsul Jannah, Kotalama, Malang. Semenjak Ustadz Basori masih muda dan segar bugar hingga kini beliau didorong kursi roda, perjuangannya di kampung Kebalen Wetan, tetap berlangsung istiqamah.

Subhanallah! Luar biasa! Ternyata, KH. Abdullah Sattar Hilmy benar-benar tepat dalam memilih penggantinya. Dialah KH Basori Alwi asli Singosari yang tetap istiqamah melaksanakan amanah dakwah hingga kini, lebih dari 35 tahun.