View Muritsul Jannah
Masjid Termegah Kotalama Malang
Memakmurkan Masjid
Orang yg memakmurkan masjid, merekalah yg mendapat hidayah. (QS. Taubah:18).
Terima Kasih
atas donasi untuk pembangunan Masjid Muritsul Jannah. Amal Jariyah (infaq, sodaqah, zakat) bisa ditransfer via Rekening BRI Nomor 0344-0100-464-55-33 an. HR. Taufiqurrochman, MA (Takmir Masjid).
POSDAYA Muritsul Jannah
POSDAYA Muritsul Jannah: memberdayakan umat dan memakmurkan masjid sebagai Islamic Center.
Peresmian Masjid Muritsul Jannah
Peresmian Masjid dihadiri: KH Basori Alwi, Habib Sholeh al-Aydrus, Drs Saifullah Yusuf (WaGub Jatim), Habib Jamal b. Toha Baaqil, Habib Abdul Qodir, Drs Sutiaji (Wawali Malang).
Dewan Masjid Indonesia
Takmir Masjid Muritsul Jannah Terpilih sebagai Ketua DMI Kotalama Malang.
Pesantren Ramadan Muritsul Jannah
Mencetak Generasi Muda Muslim Berakhlaq Mulia dan Berilmu Sempurna.
Tampilkan postingan dengan label Program. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program. Tampilkan semua postingan
01 September 2012
Kursus Khat Kaligrafi
Remas Muritsul Jannah pernah mengadakan sebuah program bernama
"Kursus Khat & Kaligrafi". Kalau tidak salah, sekitar tahun 2002.
Saat itu, ketua remas telah dikomando oleh Mas Suwandi.
Kursus
Khat dan Kaligrafi ini, saat itu saya gagas karena saya melihat adanya
bakat seni di dalam diri para pemuda, terutama remas Muritsul Jannah.
Seni menggambar dan mewarna di kalangan mereka merupakan bakat alami
yang dimiliki arek-arek Kotalama. Talenta inilah yang sebenarnya ingin
saya gali lebih dalam untuk kemudian didayagunakan.
Dalam
kursus, saya menggandeng 2 orang seniman. Pertama, adalah Mas Slamet
yang merupakan asli arek Blok Muris Kotalama. Pemuda berambut gondrong
ini dikenal dengan karya-karya lukisannya yang hidup. Salah satu
kenangannya bagi saya adalah saat saya memintanya untuk melukis foto
Kiai Kholil Bangkalan di atas kanvas. Kini, lukisannya itu saya pajang
di ruang tamu rumah saya.
Orang kedua adalah Ust Abdullah.
Beliau adalah teman akrab saya saat masih mondok di PIQ Singosari.
Sejak di pesantren, karya kaligrafi dan kemampuannya dalam menulis khat,
sungguh mengagumkan. Salah satu karya kaligrafinya, juga saya pajang di
ruang tamu saya.
Duet antara pelukis profesional dan
seniman kaligrafi ini yang menjadi ujung tombak Kursus Khat dan
Kaligrafi yang ketika itu diminati oleh anggota remas. Memang,
kebanyakan yang ikut masih usia pubertas, namun saya yakin semangat
mereka ini yang akan menjadikan bakat-bakat alami terasah dengan baik.
Dengan
mengenal kaidah penulisan Arab yang baik dan benar, seseorang akan
mampu mengekspresikan imajinasinya dengan benar pula. Kursus itu
diselenggarakan setiap Minggu Pagi bertempat di ruang sekolah SDN
Kotalama. Selama 2 bulan, peserta dilatih cara menulis khat, dikenalkan
aneka jenis kaligrafi Arab, dan sebagainya.
Kursus semacam
ini akan menambahkan skill dan pengetahuan para pemuda. Dengan ilmu,
wawasan akan luas dan dengan seni, hidup akan menjadi lebih indah.
Ke
depan, setelah Masjid Muritsul Jannah usai dibangun, masjid itu insya
Allah akan diramaikan oleh berbagai aktivitas yang positif yang menambah
wawasan sekaligus mengasah bakat seni religi.
28 Agustus 2012
Beasiswa PIZ Remas
Jauh sebelum program BOS digulirkan Pemerintah RI, Remas Muritsul Jannah Kotalama Malang telah berhasil membantu para siswa dari keluarga kurang mampu dengan menyalurkan zakat maal dalam biaya pendidikan (SPP) sekolah.
Sekitar tahun 2001, Program Beasiswa Berprestasi (BB) direalisasikan oleh Panitia PIZ (Penyalur Infaq & Zakat) Remas Muritsul Jannah. Saat itu, perolehan hasil infaq atau sedekah dan zakat maal yang dihimpun oleh PIZ dialokasikan bagi siswa/siswi kampung Blok Muris yang dinilai kurang mampu tapi memiliki prestasi yang baik.
Oleh karena itu, Remas mempublikasikan program BB tersebut dengan 2 kriteria. Pertama, orang tua siswa secara ekonomi memang terbukti tidak mampu dan secara hukum Islam dikategorikan "mustahiq" atau orang yang berhak atas zakat. Kedua, siswa yang bersangkutan menunjukkan raport hasil belajar di sekolah sebagai bukti berprestasi.
Dengan 2 kategori tersebut, penyaluran zakat maal dalam bentuk biaya SPP menjadi adil dan kompetitif. Tidak sekedar untuk mustahiq yang kurang mampu, tapi juga siswa yang memiliki skill bagus dan berprestasi. Oleh karena banyaknya calon mustahiq yang terdaftar, maka diperlukan seleksi dengan 2 tolak ukur di atas.
Program ini mendapat apresiasi dan sambutan yang baik, bukan hanya dari jamaah dan orang tua siswa, namun juga oleh pihak sekolah. Dengan beasiswa berupa pelunasan biaya SPP selama setahun, sedikit-banyak dapat meringankan beban wali murid. Pihak sekolah pun sangat kagum dengan Program BB ini. Mengingat, dengan uang zakat yang disalurkan melalui dunia pendidikan apalagi oleh remas, mereka meresponnya dengan antusiasme tinggi.
Menurut pihak sekolah, belum pernah ada, terutama di wilayah Kedungkandang apalagi di Kotalama, ada masjid yang remas-nya mampu mandiri dan membiayai adik-adik kelas atau jamaahnya di bidang pendidikan. Gerakan zakat di bidang edukatif ini menempatkan harta zakat di posisi yang tepat. Yakni, turut serta mencerdaskan anak bangsa sekaligus mensejahterakan kehidupan umat.
Dampak positif dari program tersebut, Remas Muritsul Jannah Kotalama Malang makin memperoleh kepercayaan yang tinggi dari para aghniya' atau dermawan yang hendak menyalurkan zakat mereka. Buktinya, dari tahun ke tahun, angka pemasukan uang dari zakat maal makin meningkat.
Program BB PIZ Remas ini dihentikan semenjak Pemerintah membuat kebijakan tentang Biaya Operasional Sekolah (BOS). Karena pemerintah dinilai telah peduli dengan pendidikan anak bangsa, terutama di tingkat dasar, maka Remas pun menghentikan program tersebut dan kembali mengalihkan penyaluran zakat maal kepada faqir-miskin dalam program lainnya.
Andaikan semua masjid dan remas-nya memiliki kemampuan manajerial yang bagus dalam mengelola zakat, infaq dan sedekah dari umat Islam untuk umat Islam, niscaya kesejahteraan menjadi merata. Sebab, Remas yang notabene-nya adalah aktivis masyarakat sendiri merupakan salah satu ujung tombak yang tahu benar dengan status masyarakat di sekitarnya sehingga bantuan tidak salah sasaran.
Melibatkan Remas sebagai aktivis masjid dalam program mensejahterakan masyarakat, tampaknya bisa menjadi pertimbangan Pemerintah. Dengan menggandeng Remas sebagai mitra bersama, pendistribusian bantuan bisa tepat sasaran. Selain itu, kerjasama tersebut menjadi bukti pemerintah dalam memakmurkan masjid sebagai sentral kegiatan umat.
Sifat amanah yang ditanamkan kepada para aktivis muda yang jauh dari kepentingan pribadi merupakan nilai penting dalam soal penyaluran bantuan. Sebab, selama ini, yang sering dicurigai adalah dalam hal penyaluran bantuan yang ditengarai kerap bocor di tengah jalan atau salah sasaran.
Sinergi antara Pemerintah dan aktivis masjid akan menjadi kekuatan moril dalam mensejahterakan umat di berbagai bidang. Semoga.
19 Mei 2012
Perpustakaan Masjid
Buku adalah jendela untuk menatap dunia. Ia adalah media untuk
melihat masa lalu, sekarang dan juga masa depan. Bukankah mukjizat
terbesar Nabi Muhammmad adalah sebuah kitab yang suci dan abadi? Ini
artinya, buku merupakan warisan berharga yang sangat penting nilainya.
Budaya
membaca buku, saat ini dirasakan oleh berbagai pihak, mulai terkikis.
Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang rakyatnya terbebas dari
buta huruf dan tidak miskin informasi. Buku akan sanggup menjembatani
generasi muda untuk belajar histori masa lalu sehingga mereka bisa
mengambil aspek positifnya.
Masjid sebagai tempat ibadah,
juga harus menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan. Sebab, ibadah
tanpa ilmu selain tidak sah juga akan sesat dan menyesatkan. Karenanya,
memposisikan masjid sebagai sentral ibadah dan ilmu pengetahuan menjadi
keharusan bagi semua jamaah dan warga untuk merealisasikannya.
Untuk
mewujudkan hal itu, salah satunya diperlukan perpustakaan masjid yang
menghimpun buku-buku yang bernuansa religius, ilmiah dan inspiratif.
Dengan adanya perpustakaan, masjid akan berfungsi mencerdaskan kehidupan
umat.
Nantinya, setelah pembangunan selesai, di masjid
Muritsul Jannah akan tersedia sebuah ruang perpustakaan, lengkap dengan
buku-buku agama dan juga multimedia. Dengan dukungan pengelolaan secara
profesional, perpustakaan masjid akan menjadi sumber inspiratif dan
jendela bagi umat untuk menggali ilmu dan informasi.
Bukan
hanya buku agama saja, tapi juga akan dilengkapi dengan buku-buku
sekolah mulai tingkat dasar, menengah hingga atas supaya warga di
sekitar masjid, terutama anak-anak dan remaja yang kurang mampu, bisa
terbantu dalam mencari sumber pengetahuan. Mereka pun akan diberi akses
yang mudah dan nyaman di perpustakaan masjid. Sambil membaca, juga
i'tikaf.
Bukankah ayat pertama yang turun berbunyi:
"iqra', bacalah!" yang itu menjadi titik awal perkembangan Islam?
Artinya, budaya baca harus terus disemarakkan, salah satunya melalui
masjid sebagai pusat peradaban.
18 Mei 2012
Murisco FM
Idealnya, masjid harus menjadi pusat kegiatan agama Islam. Dari
masjid, diharapkan ada pencerahan yang mampu mencerdaskan umat dan
menggerakkan kehidupan masyarakat dalam beragama, berbangsa dan
bernegara.
Untuk itu, diperlukan media penyaluran
informasi yang efektif agar semua masjid terasa selalu hidup di tengah
jamaah. Apalagi kini, arus informasi kian deras dan komunikasi makin
mengglobal, sehingga pemanfaatan media networking dan aneka multimedia
menjadi keniscayaan supaya masjid selalu eksis.
Nah, akhir
tahun 2012 ini, Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang akan segera
direnovasi. Persiapan pembangunan mulai dari pembentukan tim sukses,
panitia pembangunan hingga perangkat penunjang administratif tengah
dipersiapkan. Diharapkan, pembangunan ini akan rampung dalam 1 hingga
1.5 tahun dengan syarat semua komponen masyarakat kompak, bahu membahu
dan bersatu mensukseskan planning besar ini.
Memakmurkan
masjid, tidak cukup berhenti dengan membangun atau merenovasi konstruksi
fisiknya saja, tapi juga membangun jiwanya dan menghidupkan ruh
keagamaan di dalam rumah Allah. Untuk itu, selain rencana pembangunan
fisik, planning ini juga harus mencanangkan aspek psikis masjid dan
spiritual umat.
Dengan menilai kebutuhan di atas, maka
Takmir juga berencana akan mendirikan sebuah stasiun radio yang nantinya
akan berpusat di kantor masjid lantai dua. Di sana, akan tersedia
ruangan khusus sebagai studio untuk mengelola informasi dan
mempublikasikan berita keagamaan, pendidikan, bimbingan ibadah, tanya
jawab, konsultasi dan sebagainya.
Radio yang digagas itu
akan diberinama Murisco FM yang akan ditangani secara profesional dengan
memanfaatkan SDM yang ada di tengah-tengah para jamaah. Dengan
manajemen yang baik, radio itu akan bersifat publik dan diberi kebebasan
untuk berkembang, baik dalam hal konten religius maupun finansial yang
akuntable.
Di bawah kepengurusan takmir, akan dibentuk
unit informasi dan publikasi yang salah satunya akan menangani tentang
Murisco FM. Di kantor yang sama tersebut nantinya akan disulap sebagai
rumah produksi masjid Muritsul Jannah yang secara mandiri bebas
berkreasi.
Menyambut rencana besar ini, ada peluang bagi
mereka yang berpotensi di bidang penyiaran radio untuk mulai
berancang-ancang menetapkan langkah-langkah strategis supaya ide ini
bisa mudah direalisasikan.
Melalui radio Murisco FM, warga
yang ada di sekitar masjid maupun yang jauh dari wilayah Kebalen Wetan,
nantinya akan bisa mengakses informasi kemasjidan, keagamaan,
pendidikan, kabar kampung, berita pasar, iklan, peluang kerja,
konsultasi keluarga, dan sebagainya.
Manfaat radio Murisco
FM bukan hanya memperluaskan jangkauan dakwah dan memperlebar jalinan
komunikasi saja, namun lebih dari itu, radio juga akan membuka
peluang-peluang untuk menyalurkan bakat dan menambah income.
Mari kita sambut masjid berbasis multimedia, Masjid Muritsul Jannah Kotalama Malang.
17 Mei 2012
Madin Muritsul Jannah
Ide untuk mendirikan Madrasah Diniyah (Madin) di Masjid Muritsul
Jannah pernah terlontar sekitar tahun 1998. Saat itu, saya masih di
pesantren. Menurut saya, ide itu cukup bagus. Bahkan kini, sudah
seharusnya masjid sebesar Muritsul Jannah yang ada di tengah kampung
padat penduduk, memiliki lembaga pendidikan semisal Madin.
Entah
mengapa ide itu berlalu begitu saja seperti hembusan angin yang tak
berbekas. Padahal, ketika itu para pengasuh majelis taklim atau guru
pengajian anak-anak, pernah dikumpulkan dan mereka pun menyatakan
setuju. Tapi, sekali lagi, ide itu sekedar ide.
Belajar
dari pengalaman tersebut, bisa disimpulkan bahwa ternyata menyatukan
hati, visi dan misi di tengah masyarakat yang hegemonis, tidaklah mudah.
Atau, boleh jadi, saat itu memang tidak ada leader yang mampu
menyatukan benang kusut. Padahal, bila semua komponen bersatu padu,
pasti sinergi di antara mereka akan melahirkan kekuatan dahsyat.
Pertanyaannya, seberapa pentingkah Madin Muritsul Jannah itu?
Sebenarnya,
kalimat ini tidak perlu ditanyakan. Sebab, jawabannya jelas sangat
penting. Bahkan, menurut saya, sangat mendesak untuk digagas sejak hari
ini. Kelak, setelah masjid baru berdiri kokoh, maka tugas semua warga
adalah mengisinya dengan kegiatan agama yang lebih semarak. Semakin
besar sebuah masjid, semakin besar pula amanat yang harus dipikul semua
jamaah.
Madin itu nantinya, akan menyatukan semua majelis
pengajian anak-anak, remaja dan dewasa yang selama ini masih berserakan
di sekitar masjid. Langsung maupun tidak langsung, keberadaan majelis
yang berjumlah banyak itu, menunjukkan bahwa pendidikan yang sedang
berkembang di kampung Kebalen, khususnya Blok Muris, masih
tradisionalis.
Artinya, ngaji ala kampungan itu bila tidak
dimanej dengan baik dan disatukan dalam wadah pendidikan yang memiliki
kurikulum lengkap, maka sampai kapanpun tidak akan pernah maju.
Anak-anak di kampung yang tidak memiliki kesempatan mondok atau
meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, seperti yang sudah-sudah,
mereka akan tertinggal dan tergerus oleh zaman.
Bila
dilihat, pengajian di kampung hanya memuat materi baca-tulis al-Quran,
pengenalan pokok akidah Islam dasar, fiqih dasar seputar bersesuci,
shalat, dan doa-doa. Pencapaian tertinggi mereka adalah khatam. Yang
penting, bisa ngaji Quran dan khatam. Itu saja. Tapi ternyata, target
inipun banyak yang tidak dicapai.
Ngaji sekedarnya,
mengajar juga ala kadarnya. Itulah pengertian ikhlas yang disalahpahami.
Akhirnya, baik guru maupun murid sama-sama menjadi korban. Demikian
pula, orang tua. Saya sebut "korban", karena dampak tidak bersatunya
semua komponen dan pendidikan yang tidak mempunyai kurikulum yang jelas
tersebut, akan dirasakan oleh semua pihak.
Singkat kata,
selama tidak ada kesamaan visi, misi dan tujuan untuk maju secara
bersama-sama, maka selama itu pula, semua akan selalu tertinggal.
"Anak-anak jadi korban", kok bisa? mengapa?
Yah,
mestinya, anak-anak dan remaja kita mendapat pendidikan agama yang
tepat, cepat dan menyeluruh. Bukankah model pendidikan dan pembelajaran
ilmu agama saat ini sudah lebih modern dengan berbagai inovasi?
Teknologi pendidikan inilah semestinya yang harus dicoba untuk
diimplementasikan di tengah masyarakat supaya mereka tidak terus menjadi
awam.
Satu contoh kecil, misalnya tentang pengajaran
al-Quran. Saat ini, telah berkembang berbagai metode dan materi
pembelajaran al-Quran dengan berbagai media interaktif yang hasilnya
terbukti efektif membuat anak cepat bisa mengaji dengan kualitas yang
baik.
Kemajuan seperti ini ternyata belum diadopsi oleh
para guru ngaji di kampung. Slogan "al-Muhafadzah alal qodimis asholih,
wal akhdu bil jadidil ashlah", menjaga tradisi lama yang baik dan
mengadopsi hal baru yang lebih baik, ternyata hanya berhenti pada
penggalan pertama. Yakni, melestarikan tradisi saja, padahal sesuatu
yang dilestarikan itu sudah jauh ketinggalan zaman.
Dari
dulu hingga sekarang, misalnya, metode ngaji masih tetap dengan metode
kuno. Apa itu? Sistem ngaji setoran. Siswa yang datang duluan, dialah
yang diajar. Tidak ada metode, tehnik, evaluasi, apalagi media
penunjang. Kenyataan ini bukan berarti para guru itu tidak mampu atau
tidak mau dengan kemajuan. Tapi, saya rasa, karena mereka hanya berjuang
sendirian dengan segala keterbatasan, termasuk kendala dana, tenaga,
waktu, tempat, fasilitas dan sebagainya.
Di sinilah
perlunya bersatu dalam satu wadah (baca: Madrasah Diniyah) sehingga
kendala ini bisa lebih mudah diatasi karena akan banyak solusi bila
ditangani bersama-sama.
"Guru pun bisa jadi korban". Bagaimana bisa?
Yah,
kita tahu nasib guru ngaji di kampung banyak yang memprihatinkan.
Secara ekonomi, mereka sangat terbatas. Apalagi, pengajian di kampung
banyak yang gratis. Serba ikhlas. Guru ngaji itu tidak mampu menarik
SPP, sebab selain didasari ikhlas, juga khawatir muridnya bubar dan
pindah ke tempat ngaji lain. Selain itu, orang tua juga juga tidak tau
menau tahu tentang hal ini.
Dan, yang lebih disayangkan
lagi, sebenarnya di tengah-tengah kampung ada banyak lulusan pesantren.
Saat mereka boyong dan ilmunya tidak diaplikasikan atau kurang
dimanfaatkan dalam pendidikan, lama-kelamaan mereka juga tertinggal. SDM
yang begitu bagus, ternyata diabaikan karena tidak ada yang
mewadahinya.
Di sinilah perlunya Madrasah Diniyah. Ia akan
menyatukan semua guru dan memanfaatkan alumni pesantren. Sebuah Madin
yang kuat dan maju dengan kurikulum rapi, didukung SDM yang potensial,
jelas akan menambah kepercayaan orang tua dan masyarakat. Jika
kepercayaan itu telah diraih, maka dengan sendirinya, Madin tadi sedikit
banyak akan menolong para guru dan alumni pesantren dalam mengamalkan
ilmunya sekaligus juga sedikit menopang kebutuhan finansial mereka.
Memperhatikan
urgensi Madin di atas, maka gagasan untuk melengkapi Masjid Muritsul
Jannah dengan lembaga pendidikan diniyah merupakan ide mulia yang sejak
hari ini harus segera dipikirkan oleh semua pihak.
Wallahu A'lam.
12 Mei 2012
Pengajian KH Basori Basori
Hadiri Pengajian Rutin yang diasuh
K.H. Basori Alwi (Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari Malang)
Setiap Hari Senin malam Selasa, Bakda Maghrib hingga Isyak.
Materi Pengajian: Tartil Al-Quran dan Tafsir Al-Ibriz
Langganan:
Postingan (Atom)























